Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hidup Minimalis untuk Mendapatkan Ketenangan Lebih (Part 1)

Minimalisme, Minimalis, Mindful


Aku belajar sesuatu yang baru hari ini tentang minimalisme. Sudah lebih dari 5 tahun aku mencoba hidup minimalis, tetapi barang-barang yang tidak terpakai tetap saja menumpuk. Dan bayangkan, selama hidup berpindah rumah di Malang hampir 5 tahun, selama itu juga barang-barang itu mengikutiku pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Maklum karena waktu itu kami masih mencari lingkungan yang cocok bagi keluarga kami. 

Pusing ga tuh? Jelas!

Dari mana asal barang-barang itu?

Bermula dari hadiah pernikahan, lalu hadiah kelahiran anak, lalu kiriman-kiriman yang tidak direncanakan atau semacam hadiah lebaran. Barang-barang tersebut tersimpan dengan rapi, sampai tanpa sadar memakan banyak ruang. Awalnya 1 box, lama-lama menjadi 2 rak besar 😅

Memang tidak pernah declutter?

Rutin! tetapi ternyata decluter barang ternyata tidak begitu membantu. Teman-teman pasti pernah mendengar Marie Kondo dengan teknik konmari nya? Marie mengajarkan untuk memberikan "rumah" bagi setiap barang dan bila setiap 1 barang masuk, 1 barang lainnya harus keluar. Nah ternyata ini kurang applicable untuk kami. Alhasil barang-barang menjadi 2 rak besar tadi. 

Inilah hal baru yang aku pelajari yaitu "Silence To Do List".

Pernahkan teman-teman memiliki baju yang ingin didonasikan tetapi belum sempat untuk mengurusinya, dan barang itu masih tersimpan dilemari sampai beberapa waktu lamanya. 

Setiap teman-teman membuka lemari, tiba-tiba baju itu seperti berkata "Hey katanya mau didonasikan? kapan?" 

Nah inilah yang disebut dengan "Silence to do list". Barang yang perlu diurus tetapi tertunda, mereka akan menambah pikiran, menambah to do list kita. Terutama aku, yang gampang banget terdistraksi dan kurang fokus, akhirnya aku jadi berkata pada diriku "Okay akan aku kerjakan nanti sore/besok/lusa" dengan penundaan ini, secara tidak sadar kita akan merasa tidak produktif, sebab ada hal yang harus kita kerjakan tetapi ternyata tertunda. Lalu apakah besok akan dikerjakan? Pada kenyataannya BIASANYA tidak dikerjakan juga. Dan terus berlarut-larut, you know the end of the story 😂

Silence to do list inilah yang membuat kita merasa kurang puas dengan produktivitas kita. Ini merugikan sekali secara waktu, fisik dan mental. Secara waktu kita merasa ini perlu dikerjain tetapi masih ada pekerjaan lain, fisik mau mengerjakan sudah keburu capek, akhirnya secara mental kita merasa kepikiran/overthinking dengan barang-barang itu. Simak juga video tentang silence to do list - in English yaa.

Semua itu berawal dari mana? Barang-barang yang berlebihan. Karena itu minimalisme bisa menjadi terapi bagi sebagian orang. Termasuk aku. Dengan memiliki sedikit barang, hanya memilih barang yang esensial dan menyeleksi barang dengan hati-hati, inilah yang membuat pikiranku menjadi lebih ringan, lebih mudah fokus dan nyaman menjalani hari. Mengapa demikian? Sebab aku merasa tanggung jawabku terhadap barang-barang yang aku miliki sudah diselesaikan. What a beautiful life

Jadi apa yang kamu lakukan untuk mengurangi barang?

Sebelum memulai minimalisme, tantangan pertama bagi ku adalah aku sadar perintilan perempuan itu BANYAK. Jadi untuk itu aku memulai dengan membagi beberapa kategori. 

Pertama dimulai dari alas kaki. Setiap anggota keluarga dapat jatah 4 alas kaki. 1 pasang sandal, 1 pasang sepatu formal, 1 pasang sepatu olahraga dan 1 pasang sepatu cadangan. Terlihat masih banyak yaa? tetapi ini yang aplicable untuk keluarga kami. Setiap keluarga tentu berbeda. Pola ini sudah sangat drastis dari jumlah alas kaki sebelumnya, dimana 1 anggota keluarga bisa punya 6-8 pasang alas kaki. Misalnya sendal bisa punya 3 pasang, sepatu olah raga 2 pasang, sepatu formal 2-3 pasang. *kenapa banyak sekali alas kaki untuk 1 orang saja😂

Kedua baju. Untuk suami dan anak-anakku, karena mereka semua lelaki sangat mudah membagi bajunya. Terbagi menjadi baju seragam, baju formal, baju non formal (plus baju olahraga), dan baju dalaman. Untukku masih ditambah jilbab formal dan jilbab non formal (plus jilbab olahraga) beserta dalaman hijab, legging dan kaus kaki. Ohya masing-masing anggota keluargaku juga punya topi 1 buah. Untuk baju-baju tadi, aku berikan jatah maksimal 5 pcs baju, kecuali seragam, karena mengikuti jadwal sekolah dan kantor. 

Ketiga alat masak

Untuk alat masak ini mudah karena aku lah ratu dapurnya, haha, jadi aku hanya mau barang kualitas baik yang ada didapurku. Aku punya 2 wok pan, 2 panci, dan 1 wajan sudah cukup. Untuk food processor aku cukup punya oven dan chopper multifungsi. Alat dapur lainnya aku punya timbangan dapur. Dah segitu aja alat masakku.

Keempat alat makan

Mungkin ini cukup banyak karena dapat banyak dari hadiah. Aneka set gelas dan teko, piring, dan aneka box bekal, dapurku sampai penuh karena ini 😂

Nah baru mau nulis bagian ini, pikiranku sudah terngiang-ngiang silence to do list haha,, sementara sampai disini dulu yaa.. Supaya lebih tenang, aku mau beberes dulu yaa.


to be continue ke bagian 2 😉

Posting Komentar untuk "Hidup Minimalis untuk Mendapatkan Ketenangan Lebih (Part 1)"