Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hidup Minimalis untuk Mendapatkan Ketenangan Lebih (Part 2)



Tulisan kali ini, aku akan fokus mengenai hikmah dari kisah hidup minimalis yang dijalani oleh panutanku, idolaku, Nabi ku, yaitu Rasulullah SAW. Yang belum baca bagian 1 ada disini yaa teman-teman.

Sudah lama aku penasaran, mengapa Rasulullah SAW memilih hidup minimalis, disaat mungkin semua hal yang Beliau minta pasti akan dikabulkan Allah SWT. Sebelum nya aku ingin disclaimer, bahwa aku belum banyak ilmu tentang shiroh nabawiyah, aku hanya mengambil dan menyambungkan petikah hikmah yang aku ketahui yaa, jadi mohon maaf bila dalam penulisannya kurang detil.

Teladan dari Rasulullah SAW

Dalam sebuah kisah hidup Rasulullah SAW, saat Beliau awal-awal berdakwah di Makkah, sebagian besar kaum dan pembesarnya menentang dakwah Rasulullah SAW. Namun karena  Beliau ada di bawah penjagaan pamannya, Abu Thalib, para pembesar tersebut tidak bisa langsung menghalangi dakwah Beliau. Abu Thalib juga termasuk pembesar di Mekkah yang disegani. Hingga pada suatu hari Abu Thalib membujuk keponakannya tersebut, Rasulullah SAW, untuk berhenti berdakwah dan akan memberikan apa saja yang beliau mau sebagai gantinya. Namun apa jawaban Rasulullah SAW sungguh luar biasa, Beliau berkata yang konteks Penggalan matannya berarti,

Wahai Paman, Demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah) sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.

Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dalam al-Maghazi (Sirah Ibnu Hisyam) dengan sanad dari Ya’qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas.

Hal ini menggambarkan keteguhan dakwah Rasulullah SAW yang tidak akan terpengaruh dengan kepentingan duniawi apapun (harta, kekuasaan dll). Aku ga akan membahas tentang ini lebih jauh, mari kita lompat ke peristiwa Isra Mi'raj.

Dalam peristiwa Isra Mi'raj dikisahkan Rasulullah SAW melihat keadaan surga. Saat itu, pikiran anak-anakku berpikir kenapa tidak meminta setitik saja kenikmatan surga untuk dibawa ke kehidupan sehari-hari. Misalnya punya rumah yang lebih bagus? kamar-kamar yang lebih estetik? atau juga mungkin kamar mandi yang lebih nyaman? sebab kita semua tau replika rumah Rasulullah SAW sangatlah sederhana. Hanya ada barang-barang prioritas untuk hidup, ga ada tuh yaa pajangan biar estetik, model kursi yang estetik, kamar yang estetik dll... Aku merenung. Sungguh luar biasa Nabiku tercinta. I mean, bisa aja minta sama Allah sedikiitt aja penunjang hidup yang lebih "keren" dari masyarakat umumnya saat itu, dan apalagi ini sudah melihat surga, kita nih ya yang belum liat surga aja sudah berangan-angan disurga nanti mau minta apa yang dulu kayaknya belum pernah di dunia. Masya Allah. Tapi itulah bedanya panutan kita dengan kita yaa, tentu Rasulullah SAW ga akan mencontohkan hal demikian ke umatnya, beliau akan tetap kembali ke dunia menjalani tugasnya hingga diizinkan Allah SWT menikmati surga bersama umatnya kelak -insya Allah kita juga termasuk dalam umat Beliau yang selamat aamiinn.

Hidup sederhana juga diajarkan kepada Putri Beliau, Sayyidah Fatimah Az Zahra. Kita tentu tau kisah Sayyidah Fatimah Az Zahra saat kelelahan dengan tugas rumah tangga, Beliau bukan memberikan saran pelayan tetapi memberikan saran dzikir agar setiap lelahnya bernilai ibadah. Tentu kita juga tau kisahnya Sayyidah Fatimah Az Zahra yang menambal baju Beliau yang robek, bukan meminta baju baru.

Hikmah apa dari hidup minimalis Rasulullah SAW

Inilah the beauty of the story, bahwa ternyata hidup dengan sedikit barang itu sebenarnya idama sebab amat sangat menenangkan pikiran, membersihkan jiwa dan menyehatkan mental kita. Why? karena kita bisa fokus dengan hal-hal produktif yang lainnya, dan tidak disibukkan dengan barang yang kita miliki. Selama kebutuhan dasar terpenuhi-tentunya yang membuat kita cukup nyaman yaa- itu sudah sangat cukup. Maksudku begini, dengan memiliki sedikit barang, kita tidak perlu banyak waktu mengurusnya, misalnya saat punya baju dengan model tertentu kita perlu merawatnya sesuai pentunjuk agar baju tersebut tetap baik, apakah dengan tidak mencuci dengan mesin tetapi dengan tangan, apakah menjemurnya tidak boleh kena sinar matahari, apakah menyimpannya perlu perlakuan khusus dll. Ini hanya contoh 1 jenis barang, apalagi bila kita memiliki banyak barang lainnya.

Aku juga paham, standar hidup sederhana pada zaman Rasulullah SAW jelas beda dengan standar hidup sederhana kita saat ini. Kita tidak bisa menerapkan hidup sederhana dulu seperti pilihan material rumah dan perabotan Rasulullah SAW kala itu ke zaman modern, tentu sudah sangat jauh berbeda. Tetapi kita bisa meniru pilihan hidup dengan sederhana (minimalis) di zaman modern saat ini dimana orang sangat mudah sekali membeli barang bahkan membeli barang karena alasan "lucu" dan "gemesh" atau "estetik".

Boleh membeli barang "lucu" dan "gemesh" atau "estetik" itu, tetapi keep in mind, apakah barang tersebut benar-benar kita butuhkan dari pada mengikuti hawa nafsu atau tergoda promo. Salah seorang ustadz pernah menasehati bahwa setiap barang (karena aku perempuan mungkin seperti baju, tas, sepatu "gemesh" dll) yang kita miliki akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Proses menuju hidup minimalis

Aku belum sepenuhnya bisa menjalani hidup minimalis, tetapi sedikit demi sedikit menerapkan minimalis benar-benar membuat pikiranku lebih lapang. Contohnya dari mengurangi jumlah baju dan peralatan dapurku. Wah yang tadinya pusing naruh baju dan menata dapur, kini hidupku nyaman dengan baju-baju esensial saja bagi keluargaku dan barang dapur secukupnya. Hidup sederhana membuat pikiran kita lebih fokus pada hal esensi pada hidup. Seperti contoh Rasulullah SAW, Beliau bisa fokus mengajarkan ilmu agama kepada para sahabat, Beliau bisa menghabiskan quality time bersama keluarga beliau, dan yang lebih penting Beliau bisa fokus kepada bekal akhirat ibadah kepada Allah SWT.

Bagaimana dengan diri ini? kadang aku masih terjerumus menghabiskan waktu mencari barang yang mau aku beli, belum lagi kecantol promo live dan iklan reels barang lain, yang ujungnya habis waktu mikirin pengen barang ini dan itu yang lucu-lucu, yang bahkan belum tentu perlu 😅. Oleh karena nya, aku mulai lebih mengerem diri dari keinginan punya barang tertentu. Karena ujung-ujungnya pas sudah dibeli kadang nyesel, kenapa beli? ini bersihinnya gimana kalo kotor/debuan kan mager? simpannya dimana udah banyak barang? 😅 nyesel mending uangnya ditabung atau buat ikutan kursus. Yah itulah aku, kalau belum nyesel, belum ngerti, teman-teman semoga tidak ikutin aku yaa.

Ada sebuah buku bagus yang judulnya Goodbye Thing, Hidup Minimalis Ala Orang Jepang yang ditulis oleh Fumino Sasaki. Buku ini laris banget karena isinya sangat membuka mindset. Dari larisnya buku ini, aku rasa kita bisa mengamini bahwa banyak orang yang sebenarnya INGIN hidup minimalis, tetapi masih terjebak dilingkaran konsumtif seperti aku 😅 yang masih berproses menuju minimalis. Fumiyo Sasaki sebelum hidup minimalis ia memiliki koleksi kaset dan foto-foto yang sangaaattt banyak. Hingga apartemennya penuh dan ia merasa hidupnya ga produktif. Hingga ia memutuskan untuk hidup minimalis dengan mulai menjual semua koleksinya dan mengosongkan apartemennya. Ia hanya punya 4-5 setelan baju, 5 pasang alas kaki dan peralatan dapur minimalis. Tempat tinggalnya kini lebih lapang, dan ia merasa bisa lebih produktif dalam pekerjaannya bahkan bisa menjalani hobi baru nya. Intinya apa? Ia merasa tenang dengan sedikit barang. Teman-teman bisa search tentang Fumiyo Sasaki atau untuk permulaan bisa kunjungi link ini.

Kadang kita perlu mengambil langkah nekat untuk bisa menerapkan hidup minimalis. Aku pernah mendengar quote yang mengatakan hiduplah seperti yang kamu impikan, yang kamu harapkan, karena kalau bukan kita, maka tidak akan ada yang mewujudkan harapan hidup kita. Ditahun 2024 ini, salah satu hidup yang aku harapkan adalah bisa menerapkan minimalisme seperti teladan dari Rasulullah SAW. Sudah sejak awal Januari aku declutter barang-barang, dan it feels so good. Aku sudah yang terlalu risau dengan banyaknya baju, buku dan peralatan dapur. Teman-teman tau, blog ini sudah ada sejak Juni 2023, tetapi baru bisa fokus aku kerjakan di Januari 2024, hiatus selama 6 bulan, kemana saja aku? salah satunya ribet dengan barang-barangku hahaa😂. Serius. Aku merasa rumahku selalu berantakan, sehingga ga konsen buat nulis!.

Awal tahun, awal yang baru

Dirimu tercermin dari lingkungan disekitarmu; lingkungan tempat tinggalmu, lingkungan pertemananmu, serta lingkungan lain yang kamu konsumsi seperti sosmed, idola dll. Jadi kelilingilah dirimu dengan lingkungan yang support terhadap peningkatan kapasitas dirimu, lingkungan yang mengharai value dirimu. Begitulah kira-kira rangkuman nasihat dari para guruku diawal tahun 2024 ini.

Memulai dari lingkungan terdekat yaitu tempat tinggal, aku berharap bisa menerapkan hidup lebih sederhana, minimalis, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya. Memberikan dampak lebih besar untuk orang disekelilingku dari tulisanku, pemikiranku dan menjalankan peranku didunia dengan lebih baik. Terakhir, Hidup minimalis mungkin tidak akan cocok untuk sebagian orang, tetapi hidup minimalis bisa menjadi terapi mindful untuk melatih fokus bagi sebagian yang lain, seperti halnya padaku. Apapun pilihan hidup teman-teman semoga selalu bahagia yaa 💝

Bismillah untuk waktu-waktu kedepan yang lebih baik. Ahsanu amala.

Posting Komentar untuk "Hidup Minimalis untuk Mendapatkan Ketenangan Lebih (Part 2)"